DIY – Cara Membuat Dutch Bucket System (DBS)

DIY – Cara Membuat Dutch Bucket System (DBS)

DIY

Sistem aquaponik dan hidroponik bukan hanya dapat menanam tanaman jenis sayuran daun seperti kangkung, bayam, selada dan sejenisnya, tapi juga dapat untuk menanam tanaman yang lebih besar seperti cabe, tomat, timun dan tanaman-tanaman besar lainnya. Namun untuk menanam jenis tanaman ini diperlukan suatu sistem yang dapat menopang tanaman tersebut sehingga tidak akan roboh.

Dutch Bucket System – DBS adalah salah satu model dalam sistem aquaponik dan hidroponik yang dapat diaplikasikan untuk jenis tanaman besar. Pada artikel kali ini kami akan menjelaskan cara membuatnya.


Langkah 1 – Siapkan Bahan

 

 

 


 

Langkah 2 – Buat Lubang

Buatlah lubang di salah satu dinding ember bagian bawah dengan jarak sekitar 7 cm dari dasar ember.

Gunakan holesaw untuk membuat lubang yang rapih. Pastikan ukuran holesaw yang digunakan sesuai dengan ukuran sock drat atau uniseal yang akan dipasang.

 

 

 

 

 


Langkah 3 – Pasang Sock Drat / Uniseal

Pasang sock drat pada lubang yang tadi telah dibuat, tempatkan knee drat dalam berada di sisi dalam ember dan knee drat luar tempatkan di sisi luar. Gunakan seal karet pada kedua sisi untuk menghindari kebocoran.sambungkan pipa PVC pada sisi luar sesuai kebutuhan dan pada ujung lainnya pasang knee/ elbow atau Tee sesuai konfigurasi yang akan dibuat.

Jika menggunakan uniseal, pastikan telah terpasang dengan sempurna. Masukan pipa PVC melalui lubang uniseal dan pasang knee/ elbow sesuai ukuran pipa PVC pada bagian dalam ember dan pasang knee/ elbow atau Tee sesuai konfigurasi yang akan dibuat.

 

 

 

 

 


Langkah 4 – Masukan Media Tanam

Langkah selanjutnya masukan media tanam pada dutch bucket/ ember. Untuk hasil terbaik, gunakan media tanam yang memenuhi kriteria-kriteria seperti yang disebutkan disini. Salah satu media yang direkomendasikan adalah batu apung.

 

 

 

 

 


Langkah 5 – Pasang pada Sistem Aquaponik

Dutch bucket yang telah dibuat kini siap dipasang pada sistem aquaponik. Hubungkan dengan jalur masukan (supply) dan jalur keluaran (return).

Jalur masukan bisa menggunakan pipa PVC atau selang HDPE ukuran 16 mm. Dan untuk pembagian ke masing-masing dutch bucket bisa menggunakan selang HDPE 5 mm atau 7 mm dengan menancapkan  nepel micro tee. 

 


Demikian cara membuat Dutch Bucket System semoga bermanfaat.

Anda juga dapat memesan Dutch Bucket siap pakai melalui kami, silahkan kirimkan pesan melalui WA ke 08129915599.

 

Selamat mencoba

Bagikan :
Metode menanam – Direct seeding & Transplanting

Metode menanam – Direct seeding & Transplanting

Tips & Trick

Direct seeding adalah teknik menanam dimana proses penyemaian dan pembesaran dilakukan pada tempat yang sama, sedangkan transplanting proses penyemaian dilakukan terpisah dengan pembesaran.

Untuk mengetahui teknik menanam yang tepat bagi anda, sebaiknya ketahui dulu kelebihan dan kekurangan dari masing-masing teknik tersebut.

 


Direct Seeding

Keunggulan :

  • Mudah – Pekerjaan yang dilakukan hanya menanam benih.
  • Murah – Hanya membutuhkan benih dan grow bed.
  • Cepat – Hanya sekali menanam benih dan pekerjaan selesai.

 

Kekurangan :

  • Menghabiskan tempat – Banyak ruang grow bed tak terpakai saat menyemai benih.
  • Tidak akurat : Benih yang gagal tumbuh menghabiskan ruang grow bed.
  • Tidak sesuai pada semua tanaman : Beberapa tanaman tidak cocok menggunakan metode ini.

Transplanting


Keunggulan :

  • Menghemat waktu dan biaya – Benih membutuhkan waktu untuk tumbuh. Dengan menggunakan tray semai, maka space pada growbed dapat dioptimalkan hanya untuk menanam benih yang tumbuh.
  • Terorganisir – Tray semai sudah terbagi-bagi menjadi beberapa cell, ini memudahkan untuk mengatur penempatan 1 benih pada tiap cell nya. Ini juga untuk memastikan tiap benih memiliki cukup ruang untuk tumbuh.
  • Efektif – Hanya benih yang tumbuh dengan baik yang akan ditanam. Benih yang gagal atau tumbuhnya tidak baik dapat dibuang.

 

Kekurangan :

  • Biaya tambahan – Pengadaan tray semai akan menambah biaya.
  • Berantakan – Menempatkan 1 benih pada 1 cell untuk benih ukuran kecil akan sulit sehingga sering dalam 1 cell terdapat beberapa benih, dan ini bisa menjadi berantakan saat benih itu tumbuh.
  • Tambah pekerjaan – Benih yang sudah tumbuh dan berkembang perlu dipindahkan, Memindahkannya ke grow bed menjadi pekerjaan tambahan yang perlu dilakukan.
  • Sensitif pada beberapa tanaman – Beberapa jenis tanaman akan sangat sensitif saat dilakukan pindah tanam. Perlu dilakukan secara hati-hati saat memindahkannya kedalam growbed.

Jika membutuhkan netpot dan media tanam, anda bisa mengunjungi toko online kami disini.

 

Bagikan :
DIY – Cara membuat Gully NFT

DIY – Cara membuat Gully NFT

DIY

NFT atau Nutrient Film Technique adalah suatu metode dalam hidroponik maupun aquaponik yang menggunakan saluran air  seperti pipa atau talang air. Air akan di suplai pada satu ujung dan mengalir dalam saluran membentuk lapisan tipis air dan kemudian akan keluar pada sisi ujung lainnya. Aliran air yang tipis inilah yang akan menyuplai nutrisi ke akar tanaman.

Berikut ini cara membuat gully aquaponik dengan menggunakan talang air.

Bagikan :
DIY – Sistem Filter

DIY – Sistem Filter

DIY

Pada artikel terdahulu telah dibahas komponen aquaponik yang pertama harus dibangun yaitu fish tank dan juga SLO sebagai sistem plumbingnya. Pada artikel kali ini kita akan membahas sistem filter yang merupakan komponen penting dalam sistem aquaponik.

 

Fungsi Filter Dalam Sistem Aquaponik

Banyak orang mengatakan bahwa jantung dari sistem aquaponik adalah pada sistem filter. Dimana kotoran padat yang berasal dari kotoran ikan, sisa makanan atau lumut (algae) yang ada dalam air akan di saring untuk kemudian dibuang sehingga air terjaga kejernihannya. Selain itu proses nitrifikasi yang merubah kandungan amonia dirubah menjadi nitrit dan kemudian nitrat juga terjadi di sistem filter ini.
 
Ada 3 kategori untuk sistem filter yaitu mekanis, biologis dan kimia. Umumnya yang banyak digunakan oleh praktisi aquaponik hanya mekanis dan biologis. Secara singkat, filter mekanis berfungsi untuk menyaring kotoran padat yaitu dengan mengalirkan air melalui media sehingga kotoran padat tersebut akan terperangkap disana. Sementara filter biologis berfungsi untuk merubah kandungan amonia menjadi nitrit dan nitrat dengan bantuan bakteri-bakteri pengurai. Filter biologis sesungguhnya membangun “rumah” yang sehat bagi bakteri-bakteri tersebut agar mereka dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik sehingga proses nitrifikasi dapat berjalan sesuai harapan.
 
Pada artikel kali ini akan dibahas bagaimana cara membuat sistem filter mekanis dan biologis menggunakan ember plastik 25 Kg. Berikut ini langkah-langlahnya :

FILTER MEKANIS – Radial Flow Filter (RFF)

Filter mekanis seringkali dibuat beberapa tahap agar hasilnya efektif dan mudah dalam perawatan. Salah satu jenis filter mekanis yang sering digunakan oleh pelaku aquaponik sebagai tahap awal adalah Radial Flow Filter (RFF). Pada filter ini kotoran padat diendapkan didasar filter dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Berikut ini langkah-langkah pembuatan RFF.

Langkah 1 – Persiapkan Bahan

– Ember Plastik
– Pipa PVC (sesuai keinginan)
– Uniseal (sesuaikan dengan ukuran pipa yang akan digunakan)
– Check Valve (sesuai ukuran pipa yang digunakan)
 
 
 
 
 
 
 

Langkah 2 – Buat Lubang

      

Buat lubang untuk outlet, inlet dan drain pada posisinya yang diinginkan. Besarnya lubang sesuaikan dengan ukuran pipa yang akan digunakan. Kemudian pasang uniseal dan pipa PVC.


Langkah 3 – Setting Pipa & Check Valve

    
 
Setting pipa PVC pada bagian dalam ember. Arahkan pipa ke atas dengan menggunakan sambungan knee. Ketinggian pipa disesuaikan dengan ketinggian air yang diinginkan. Pasang check valve pada pipa pembuangan di bagian luar ember. 

Langkah 4 – Setting Pipa Pembatas

      
 
Buat pipa pembatas menggunakan pipa ukuran besar (disini digunakan pipa 5 Inch) potong pipa sesuai kebutuhan. Buat gantungan untuk menopang pipa.
Buat lubang sesuai ukuran pipa tersebut pada tutup ember.
Tempatkan pipa tepat di tengah  jalur pipa inlet.
 
Pembuatan Radial Flow Filter selesai.

FILTER MEKANIS 
Air yang telah di filter pada RFF tidak sepenuhnya bersih, untuk itu perlu dibuat filter tambahan untuk memastikan air benar-benar bersih. Pada filter ini digunakan media filter untuk “menangkap”  kotoran-kotoran yang masih tersisa. Berikut ini adalah langkah-langkah pembuatannya.
 
Ulangi Langkah 1 sampai Langkah 3 diatas.

Langkah 3 – Setting Pipa & Check Valve

Pengaturan pipa pada filter ini sedikit berbeda dengan RFF, dimana pada jalur inlet pipa diarahkan ke dasar atau ke samping dengan menggunakan sambungan knee, sementara pada jalur outlet pipa tetap diarahkan ke atas dengan ketinggian sesuai yang diinginkan.
 
 
 
 
 
 
 

Langkah 4 – Masukan Media Filter

Agar filter mekanis ini dapat berfungsi dengan baik maka perlu ditambahkan media filter. Banyak media yang dapat digunakan sebagai filter diantaranya japmat, bio blox, brush filter dan beberapa jenis batuan/ pasir. Pada gambar ini media filter yang digunakan adalah jaring ikan.
 
 
  
 
 
 
 
 

Langkah 5 – Sambungkan RFF dengan Filter Mekanis

 
Pada foto ini terlihat bagaimana menghubungkan RFF (kiri) dengan filter mekanis (kanan).
 
 
 
 
 
 
 

FILTER BIOLOGI

Cara membuat Filter Biologi (FB) sama persis dengan membuat Filter Mekanis. Yang membedakan adalah media yang digunakan. Pada filter biologis media yang banyak digunakan adalah kaldness, Bio-ball, batu apung, potongan sedotan, tutup botol, dll. Selain itu pada filter biologi perlu ditambahkan oksigen (aerasi) dengan menggunakan air stone yang dihubungkan ke pompa udara (aerator).

 

 

 


SUSUNAN LENGKAP FISH TANK & SISTEM FILTER
     
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada gambar diatas ini diperlihatkan bagaimana koneksi antara fish tank dan sistem filter.
Outlet dari fish tank dihubungkan ke pipa inlet RFF, kemudian berturut-turut dari RFF dihubungkan ke FM dan ke FB.
Anda dapat menempatkan pompa pada filter biologi atau bisa menambahkan sump tank sebagai tempat penampungan terakhir dan menempatkan pompa disana.

Demikian Cara membuat sistem filter untuk sistem aquaponik. Semoga artikel ini bermanfaat dan membantu anda untuk mulai membangun sistem aquaponik.
 
Selamat membangun sistem aquaponik 
 
Untuk anda yang membutuhkan sistem filter siap pakai bisa hubungi kami di 0812-991-5599
 
 
 
Bagikan :
Grow Media / Media Tanam

Grow Media / Media Tanam

Tips & Trick

Penggunaan grow media (media tanam) pada aquaponik merupakan hal yang membedakannya dengan cara berkebun tradisional. Seperti halnya hidroponik, sistem aquaponik juga tidak menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Jenis grow media yang digunakan pada aquaponik sangat beragam dari mulai bahan alami yang banyak ditemui disekitar kita hingga yang dibuat khusus.

Fungsi grow media :

  • Filter untuk “menangkap” kotoran ikan
  • Rumah bagi bakteri menguntungkan
  • Penopang tanaman

Kriteria grow media

  • Bersifat netral dan tidak mengubah pH baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
  • Tidak membusuk karena akan sulit mengontrol pH
  • Berpori, artinya semakin banyak surface area sebagai “rumah” bagi bakteri. Poros juga berfungsi untuk meningkatkan sirkulasi air dan udara. Selain itu media berpori dapat menahan air dan menjaga kelembaban.
  • Ringan, agar tidak memberi beban yang berat terhadap grow bed.
  • Berukuran 1-3 cm. Jika terlalu kecil membuat ruang terlalu padat dan kotoran yang terperangkap akan menghambat sirkulasi aliran air dan udara. Jika terlalu besar akan banyak ruang kosong sehingga membuat akar tanaman sulit untuk mencengkram.

Jenis grow media

Jenis grow media yang digunakan pada aquaponik sangat beragam dari mulai bahan alami yang banyak ditemui disekitar kita hingga yang dibuat khusus. Berikut adalah contoh grow media yang biasa digunakan.

 

1. Kerikil / Split / Gravel / Crush rock

Ini adalah pecahan batu kali sehingga cukup berat dan sering ditemui masalah pH. Meskipun kerikl cukup murah tapi sisinya yang tajam akan berdampak pada akar tanaman dan agak sulit untuk di tangani.

 

 


2. Batu kali / River stone

Batu yang berasal dari sungai ini umumnya berbentuk bulat dan halus sehingga tidak sulit dalam penangannanya. Batu ini tergolong murah dan banyak tersedia dipasaran. Batu kali dapat menopang tanaman yang tinggi seperti cabe dan tomat namun tidak dapat menahan air dengan baik, sangat berat, dan surface areanya lebih sedikit jika dibanding batu apung atau expanded clay sehingga tidak dapat membentuk populasi bakteria secara optimal.


3. Batu apung / Pumice / Lava rock

Batu apung digunakan untuk banyak hal karena ketersediaan dan harganya yang tergolong murah. Batu apung adalah leca versi alami karena ringan dan berpori. Penangannya tidak semudah hidroton karena bentuknya yang tidak beraturan. Batu apung dapat memiliki pori ingga 90% dan pada awalnya akan mengapung di air tapi jika direndam dalam air untuk waktu tertentu batu ini akan tenggelam.


4. Leca / Hydroton

LECA (Lightweight Expandable Clay Aggregate) adalah butiran tanah lempung yang berpori yang akan mengembang jika basah dan membentuk lapisan sehingga akar dengan mudah berkembang didalamnya. Bentuknya yang seperti kelereng relatif halus, membuatnya mudah untuk digunakan. Media ini juga memiliki surface area yang besar, memberikan tempat tinggal bagi bakteri menguntungkan sehingga sangat efektif digunakan sebagai bio-filter. Leca memiliki pH netral yang artinya tidak mempengaruhi kandungan air sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman. Media ini juga menjadikan air mudah surut, untuk membantu akar tanaman mendapatkan oksigen. Salah satu merk yang terkenal adalah hydroton, namun saat ini produsen telah menghentikan produksinya sebagai alternatifnya bisa menggunakan Gold Label Hydro.


Masih banyak lagi jenis grow media yang dapat digunakan dalam sistem aquaponik. Anda bisa mencari dan menggunakan alternatif grow media yang ada disekitar anda selama memenuhi kriteria diatas.

Sebelum grow media digunakan sebaiknya dilakukan ujicoba terlebih dahulu untuk mengetahui apakah grow media tersebut mengandung bahan yang merugikan dan mengubah pH. Selain itu grow media juga perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal ini untuk menghilangkan debu yang masih menempel sehingga tidak mengotori air.

Jika anda membutuhkan media tanam atau media filter, silahkan klik disini

Bagikan :
Start-Up (Cycling) System

Start-Up (Cycling) System

Tips & Trick

Hal pertama yang harus dilakukan untuk memulai sistem aquaponik adalah cycling atau proses start-up. Bisa jadi tiap orang akan memberikan jawaban yang berbeda.tentang cara melakukannya. Cycling artinya membangun populasi bakteria menguntungkan pada sistem aquaponik sehingga mereka akan melakukan tugasnya mengubah amonia yang berasal dari kotoran ikan menjadi nitrat yang merupakan nutrisi bagi tanaman. Dengan kata lain membuat proses nitrifikasi berjalan.

Bagaimana proses nitrifikasi ini bekerja? Kotoran ikan itu mengandung amonia dan ini akan tercampur dalam air. Amonia adalah bahan beracun bagi ikan dan pada jumlah tertentu bisa menyebabkan kematian bagi ikan. Untungnya, alam telah menyediakan jawabannya dengan adanya kelompok bakteri menguntungkan yang disebut nitrosomonas sp. Bakteri ini akan mengubah amonia menjadi nitrit. Tetapi nitrit ini masih membahayakan bagi ikan. Lagi-lagi alam menyediakan solusinya dengan menghadirkan bakteri menguntungkan lainnya yang disebut
nitrobacter sp.
Bakteri inilah akan merubah nitrit menjadi nitrat. Dan nitrat tidak membahayakan bagi ikan.

 

Masalahnya adalah secara alami kedua jenis bakteri itu perkembangannya cukup lama sehingga proses nitrifikasi ini bisa mencapai 30 hari bahkan bisa lebih dari itu. Dan pada saat nitrat belum terbentuk maka kandungan amonia dan nitrit akan cukup tinggi dan berpotensi menyebabkan kematian ikan. Dari penjelasan diatas jelas bahwa untuk dapat menjalankan proses cycling dibutuhkan asupan amonia kedalam sistem. Ada berbagai sumber amonia yang dapat dimasukan kedalam sistem, baik menggunakan kotoran ikan maupun bahan-bahan lainnya.

Berikut ini adalah tiga cara start-up (cycling) sistem aquaponik yang sering digunakan oleh pelaku aquaponik.


1. Start-up dengan ikan

Sebenarnya jika sistem yang dibangun sudah sesuai konsep yang benar maka dengan memasukan ikan pada sistem proses cycling akan berjalan secara alami. Kotoran ikan yang mengandung amonia akan mengundang bakteri menguntungkan muncul dalam sistem berkembang biak. Amonia yang merupakan makanan bagi bakteri tersebut akan diubah menjadi nitrit dan kemudian nitrat.

Namun walau terlihat sederhana, ada hal yang perlu diperhatikan dengan menggunakan cara ini. Pada sebuah sistem baru dimana populasi bakteri belum terbentuk atau masih sedikit akan menjadi riskan bagi ikan. Karena amonia yang dihasilkan oleh ikan belum terurai seluruhnya, sehingga kandungan amonia dalam sistem masih tinggi dan menjadi racun bagi ikan. Hal ini akan mengakibatkan ikan stress bahkan mungkin mati.

Untuk itu pada saat start-up disarankan untuk tidak memasukan ikan terlalu banyak dan gunakan ikan yang punya daya tahan tinggi terhadap kondisi tersebut seperti ikan Nila misalnya. Proses nitrifikasi dengan cara ini seringkali membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan ada yang mencapai tiga bulan. Selama proses start-up lakukan pengukuran amonia, nitrit dan nitrat setiap hari hingga proses nitrifikasi telah tercapai. Selain itu lakukan juga pengukuran pH.


2. Start-up tanpa ikan

Cara yang disebut fishless ini pada dasarnya sama seperti cara sebelumnya, hanya saja pada cara ini amonia yang dimasukan kedalam sistem bukan berasal dari kotoran ikan melainkan menggunakan bubuk amonia atau bahan-bahan lain yang mengandung amonia. Beberapa pelaku aquaponik bahkan menggunakan urinenya sendiri. Keuntungan menggunakan cara ini adalah tidak adanya resiko ikan yang mati. Namun perlu diperhatikan mengenai jumlah amonia yang dimasukan dalam sistem agar proses nitrifikasi dapat berjalan dengan baik.

 

 

 


Start-up melalui donor (Inoculate)

Cara ini adalah cara tercepat untuk proses start-up. Pada prinsipnya inoculate adalah memasukan bakteri menguntungkan kedalam sistem, sehingga perkembangannya akan lebih cepat. Bakteri tersebut bisa berasal dari bakteri starter yang dijual dalam kemasan maupun menggunakan air atau media yang berasal dari sistem akuaponik yang sudah berjalan. Cara ini juga paling aman karena jumlah air atau media yang dimasukan kedalam sistem tidak akan membahayakan bagi ikan, bahkan semakin banyak semakin baik. Perlu diperhatikan jika anda menggunakan cara inoculate ini pastikan air atau media berasal dari sistem yang sehat.


Anda mungkin membutuhkan test kit untuk dapat memantau proses cycling pada sistem aquaponik. Test kit yang dibutuhkan meliputi pH, amonia, nitrit dan nitrat. Anda dapat membelinya dalam bentuk paket maupun satuan. Silahkan kunjungi online store kami untuk mendapatkan test kit tersebut.

 

 

 

I

 

Bagikan :
Cara menanam cabe

Cara menanam cabe

Tips & Trick

Bagi sebagian besar orang Indonesia cabe adalah salah satu komoditi penting. Wajar saja karena hampir setiap masakan nusantara selalu bercita rasa pedas dan ini tentunya menggunakan cabe. Harga cabe yang sering membumbung, terutama mendekati hari-hari raya sering membuat masyarakat protes. Lalu kenapa kita tidak menanmnya sendiri saja?

Berikut ini adalah cara menanam cabe dalam sistem aquaponik.

 

Dapatkan semua kebutuhan aquaponik di toko online kami

Bagikan :

Cara menaikan level pH menggunakan bubuk kalsium karbonat

Tips & Trick

Sesuai dengan namanya, hal terpenting dalam sistem aquaponics adalah kualitas airnya dan salah satu elemennya adalah level pH. Level pH akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan kesehatan ikan. Berikut adalah tips cara meningkatkan level pH menggunakan bubuk kalsium karbonat sebagai bahan oganic yang aman bagi ikan dan tanaman.

 

Tertarik untuk memulai berkebun aquaponik? dapatkan semua kebutuhan aquaponik di toko online kami,

Bagikan :