Penggunaan grow media (media tanam) pada aquaponik merupakan hal yang membedakannya dengan cara berkebun tradisional. Seperti halnya hidroponik, sistem aquaponik juga tidak menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Jenis grow media yang digunakan pada aquaponik sangat beragam dari mulai bahan alami yang banyak ditemui disekitar kita hingga yang dibuat khusus.

Fungsi grow media :

  • Filter untuk “menangkap” kotoran ikan
  • Rumah bagi bakteri menguntungkan
  • Penopang tanaman

Kriteria grow media

  • Bersifat netral dan tidak mengubah pH baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
  • Tidak membusuk karena akan sulit mengontrol pH
  • Berpori, artinya semakin banyak surface area sebagai “rumah” bagi bakteri. Poros juga berfungsi untuk meningkatkan sirkulasi air dan udara. Selain itu media berpori dapat menahan air dan menjaga kelembaban.
  • Ringan, agar tidak memberi beban yang berat terhadap grow bed.
  • Berukuran 1-3 cm. Jika terlalu kecil membuat ruang terlalu padat dan kotoran yang terperangkap akan menghambat sirkulasi aliran air dan udara. Jika terlalu besar akan banyak ruang kosong sehingga membuat akar tanaman sulit untuk mencengkram.

Jenis grow media

Jenis grow media yang digunakan pada aquaponik sangat beragam dari mulai bahan alami yang banyak ditemui disekitar kita hingga yang dibuat khusus. Berikut adalah contoh grow media yang biasa digunakan.

 

1. Kerikil / Split / Gravel / Crush rock

Ini adalah pecahan batu kali sehingga cukup berat dan sering ditemui masalah pH. Meskipun kerikl cukup murah tapi sisinya yang tajam akan berdampak pada akar tanaman dan agak sulit untuk di tangani.

 

 


2. Batu kali / River stone

Batu yang berasal dari sungai ini umumnya berbentuk bulat dan halus sehingga tidak sulit dalam penangannanya. Batu ini tergolong murah dan banyak tersedia dipasaran. Batu kali dapat menopang tanaman yang tinggi seperti cabe dan tomat namun tidak dapat menahan air dengan baik, sangat berat, dan surface areanya lebih sedikit jika dibanding batu apung atau expanded clay sehingga tidak dapat membentuk populasi bakteria secara optimal.


3. Batu apung / Pumice / Lava rock

Batu apung digunakan untuk banyak hal karena ketersediaan dan harganya yang tergolong murah. Batu apung adalah leca versi alami karena ringan dan berpori. Penangannya tidak semudah hidroton karena bentuknya yang tidak beraturan. Batu apung dapat memiliki pori ingga 90% dan pada awalnya akan mengapung di air tapi jika direndam dalam air untuk waktu tertentu batu ini akan tenggelam.


4. Leca / Hydroton

LECA (Lightweight Expandable Clay Aggregate) adalah butiran tanah lempung yang berpori yang akan mengembang jika basah dan membentuk lapisan sehingga akar dengan mudah berkembang didalamnya. Bentuknya yang seperti kelereng relatif halus, membuatnya mudah untuk digunakan. Media ini juga memiliki surface area yang besar, memberikan tempat tinggal bagi bakteri menguntungkan sehingga sangat efektif digunakan sebagai bio-filter. Leca memiliki pH netral yang artinya tidak mempengaruhi kandungan air sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman. Media ini juga menjadikan air mudah surut, untuk membantu akar tanaman mendapatkan oksigen. Salah satu merk yang terkenal adalah hydroton, namun saat ini produsen telah menghentikan produksinya sebagai alternatifnya bisa menggunakan Gold Label Hydro.


Masih banyak lagi jenis grow media yang dapat digunakan dalam sistem aquaponik. Anda bisa mencari dan menggunakan alternatif grow media yang ada disekitar anda selama memenuhi kriteria diatas.

Sebelum grow media digunakan sebaiknya dilakukan ujicoba terlebih dahulu untuk mengetahui apakah grow media tersebut mengandung bahan yang merugikan dan mengubah pH. Selain itu grow media juga perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal ini untuk menghilangkan debu yang masih menempel sehingga tidak mengotori air.

Jika anda membutuhkan media tanam atau media filter, silahkan klik disini

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *