Tips Memilih Media Filter Biologi

Tips Memilih Media Filter Biologi

Tips & Trick

RAS dan Fungsi Filter

Sistem aquaponik mengadopsi metode RAS – Recirculating Aquaculture System yang banyak dipakai pada budidaya ikan. Sebagai hasil metabolisme tubuhnya, ikan dalam kolam akan mengeluarkan kotoran padat dan kandungan ammonia. Hal itu akan mengakibatkan air kolam menjadi keruh dan pada tingkat tertentu kadar ammonia akan menjadi racun bagi ikan. Untuk itu air kolam perlu dibuang dan diganti. Pada metode RAS, limbah air kolam ini tidak dibuang tapi akan diolah melalui sistem filtrasi untuk menghasilkan air yang bersih dan sehat sehingga dapat dikembalikan lagi ke kolam ikan tersebut.

 

 

RAS – Recirculate Aquaculture System

 

Sistem filtrasi pada metode RAS terdiri dari dua komponen utama yaitu Filter Mekanis (FM) dan Filter Biologis (FB). FM berfungsi untuk menyaring kotoran padat dan sisa makanan, dan biasanya terdiri dari beberapa tahap penyaringan tergantung kapasitas kolam dan kepadatan ikannya. Sementara FB akan mengolah kandungan ammonia menjadi nitrit dan kemudian nitrat yang tidak berbahaya bagi ikan. Proses ini disebut dengan istilah nitrifikasi.

Dalam prosesnya, filtrasi ini menggunakan media sebagai perangkatnya. Pada FM, media ini berfungsi untuk menangkap kotoran padat dan sisa makanan sehingga air keluarannya akan bersih kembali. Media yang dapat digunakan pada FM pun banyak jenisnya dari yang alami seperti pasir, bebatuan dan sebagainya sampai yang buatan seperti jaring, busa, japmat dan lainnya yang memiliki tingkat kerapatan tertentu.

 

Contoh Filter Mekanis (FM)

 

Sementara itu pada FB dimana proses nitrifikasi itu dilakukan oleh bakteri-bakteri menguntungkan, maka media filternya berfungsi sebagai rumah bagi bakteri-bakteri tersebut.

 

Contoh Filter Biologis (FB)

 


BSA & SSA

Filter biologi yang baik adalah yang mampu mengolah kandungan ammonia dari kolam ikan secara optimal. Setiap bakteri memiliki batas kemampuan untuk mengolah ammonia tersebut, sehingga perlu ada hitungan yang cermat antara jumlah kandungan ammonia dengan jumlah populasi bakteri yang dibutuhkan.

Bakteri ini akan menempati dan menempel pada permukaan material yang ada pada sistem sebagai “rumahnya”. Jumlah permukaan dalam sistem yang dapat ditempati oleh bakteri tersebut dikenal dengan istilah BSA – Biological Surface Area. Besarnya BSA yang biasanya dalam satuam m2 (meter-persegi) inilah yang perlu disediakan dalam sistem sesuai populasi yang dibutuhkan.

Untuk menghitung BSA ini maka perlu diketahui berapa luas permukaan media filter yang akan digunakan. Luas permukaan pada media inilah yang dikenal dengan istilah SSA – Specific Surface Area. Tiap media memiliki SSA yang berbeda biasanya dalam satuan m2/m3 (meter-persegi per meter-kubik), Dengan mengetahui SSA pada media yang akan kita gunakan maka kita dapat menghitung nilai BSA nya dengan mengalikan nilai SSA tersebut dengan volume media yang dipakai.

 

Sebagai contoh :

SSA batu kerikil adalah 279 m2/m3 sedangkan SSA kaldness adalah   1447 m2/m3

Jika diperlukan BSA sebesar 1000 m2, maka :

Batu berikil yang dibutuhkan adalah 1000 : 279 = 3,58 m3

Sementara jika menggunakan kaldness hanya dibutuhkan 1000 : 1447 = 0,69 m3

 

Dari contoh diatas terlihat bahwa untuk kebutuhan BSA yang sama akan membutuhkan jumlah media yang berbeda. Itu juga artinya ukuran filter biologi akan berbeda.

Gravel / Batu Kerikil
Kaldnes

 


   

 

   

 

 

 

 


Tips Memilih Media Filter Biologi yang Tepat

Fungsi utama filter biologi adalah mengolah kandungan ammonia menjadi nitrit dan nitrat. Maka filter biologi yang ideal adalah yang dapat menghilangkan kandungan ammonia atau minimal kurang dari 1 ppm.

Dari sekian banyak material yang dapat dijadikan sebagai media pada filter biologi manakah yang terbaik? Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak bisa hanya berpatokan pada SSA dari media saja, melainkan ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.

  • Efisiensi ruang.

Untuk lahan yang terbatas maka efisiensi ruang menjadi penting dan ini akan berkaitan dengan jenis medianya. Semakin besar SSA suatu filter maka ruang yang dibutuhkan semakin kecil.

  • Umur / Daya Tahan

Usia pakai dari media filter juga harus dipertimbangkan karena pada akhirnya ini akan berhubungan dengan biaya.

  • Bebas Racun

Pastikan bahwa media yang digunakan tidak mengandung bahan yang berbahaya bagi ikan dan tidak mempengaruhi pH air.

  • Mudah

Material yang mudah di dapat dan mudah digunakan tentu akan menjadi pertimbangan tersendiri dalam memilih media bio-filter.

  • Biaya

Jika dana kita terbatas, maka biaya pengadaan media filter juga harus jadi pertimbangan.

 

Demikian artikel tentang tips memilih media bio-filter yang tepat. Semoga artikel ini dapat membantu anda dalam membangun filter biologi dan memilih media filter yang tepat.

 

Selamat ber-aquaponik.

Bagikan :
Plumbing – SLO (Solids Lifting Overflow)

Plumbing – SLO (Solids Lifting Overflow)

Tips & Trick

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai kriteria dan jenis-jenis fish tank yang dapat digunakan pada sistem aquaponik. Jika anda belum mengetahuinya silahkan membacanya disini. Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai sistem plumbing yang digunakan pada fish tank.

Setiap ikan yang kita pelihara dalam fish tank akan menghasilkan kotoran. Kotoran yang mengandung amoniak ini jika dibiarkan akan menumpuk didasar fish tank dan sebagian melayang-layang didalam air sehingga mengakibatkan air jadi terlihat keruh, selain itu kadar amoniak akan terus bertambah dan pada level tertentu bisa menjadi racun bagi ikan. Untuk itu kita harus sering membersihkan kotoran dan mengganti airnya agar tetap sehat dan jernih. Cara seperti ini tentu akan menghabiskan waktu dan tenaga serta menghamburkan air.

 

RAS

Aquaponik menerapkan RAS – Recirculating Aquaculture System untuk menjaga kualitas air tetap sehat. RAS adalah suatu proses water treatment yang terdiri dari rangkaian filter mekanis yang berfungsi untuk menyaring kotoran padat dan filter biologis yang berfungsi untuk mengurai kandungan amoniak menjadi nitrat yang aman bagi ikan. Dengan sistem resirkulasi ini maka air hanya akan berputar dalam sistem sehingga tidak ada yang terbuang.

SLO

Untuk menerapkan RAS pada sistem aquaponik diperlukan berbagai teknik plumbing. SLO adalah salah satu teknik plumbing yang paling banyak di gunakan oleh penggiat aquaponik. SLO atau Solids Lifting Overflow biasanya diterapkan pada fish tank yang berfungsi untuk menjaga ketinggian air tetap konstan dan mengeluarkan kotoran yang berada di dasar fish tank.

Cara kerja alat sederhana ini adalah dengan memanfaatkan tekanan air dan kemudian mengalirkannya keluar melalui pipa yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga kotoran yang ada didasar fish tank akan ikut tersedot keluar dan dialirkan ke sistem filter.

Ada dua jenis rancangan SLO yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan, yaitu SLO dengan outlet diatas dinding fish tank dan SLO yang outletnya berada di dasar fish tank. Keduanya menggunakan prinsip kerja yang sama.

                      

SLO Outlet Atas menggunakan pipa yang satu ujungnya diletakan ke dasar fish tank (jarak antara dasar fish tank dan ujung pipa sekitar 0,5-1 cm) sementara sisi satunya dihubungkan dengan sambungan Tee. Bagian Tee yang membentuk sudut tegak lurus dengan pipa dihubungkan ke outlet yang posisinya diatur sesuai ketinggian air yang diinginkan. Bagian Tee lainnya menghadap ke atas dan dibiarkan terbuka untuk menghindari efek siphon (vacum).

Sedangkan SLO Outlet Bawah posisi outlet berada didasar fish tank dan dihubungkan dengan stand pipe secara vertikal. Ketinggian stand pipe diatur sesuai ketinggian permukaan air yang diinginkan. Stand pipe ini kemudian di cover dengan pipa yang ukuranya lebih besar (diameternya 2 kali ukuran stand pipe) yang tingginya melebihi tinggi permukaan air. Pada bagian dasar dibuat beberapa lubang atau celah untuk masuknya air dan kotoran padat.

                              

Untuk memperoleh hasil yang efektif dalam sistem re-sirkulasi ini maka pergantian air dalam fish tank disarankan minimal 1 kali volume air setiap satu jam. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatur suplai air yang masuk kedalam fish tank dan tentunya pompa yang digunakan kapasitasnya harus dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu ukuran pipa outlet akan mempengaruhi debit air yang keluar. Jadi pastikan menggunakan ukuran pipa yang tepat sesuai debit air yang diinginkan.

Berikut ini adalah tabel perbandingan ukuran pipa dengan debit air yang bisa dijadikan sebagai referensi. Nilai tersebut tidak sepenuhnya tepat karena banyak faktor yang bisa mempengaruhi, misalnya sudut elevasi/ kemiringan pipa yang terpasang dan beberapa faktor lainnya.

 

Diameter Pipa Debit Air Diameter Pipa Debit Air
1” 900 L/Jam 2 ½” 8,460 L/Jam
1 ¼” 1,620 L/Jam 3” 13,644 L/Jam
1 ½” 2,916 L/jam 4” 23,148 L/Jam
2” 5,328 L/Jam

 

Dengan menggunakan teknik SLO ini maka kita tidak perlu bersusah payah membersihkan kotoran atau menguras air dalam fish tank. Semua dilakukan secara otomatis oleh alat sederhana bernama SLO ini.

Semoga bermanfaat dan selamat beraquaponik…

Bagikan :
Komponen Aquaponik – Fish Tank

Komponen Aquaponik – Fish Tank

Tips & Trick

Fish tank adalah salah satu komponen utama dalam sistem aquaponik. Bahkan ini adalah komponen pertama yang perlu dipersiapkan dalam membangun sistem aquaponik. Apa saja kriteria dan hal yang perlu diperhatikan dalam memilih fish tank?


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih Fish Tank

Sebagai tempat membesarkan ikan, fish tank harus memenuhi beberapa kriteria agar sistem aquaponik dapat bekerja secara optimal. Berikut ini adalah kriteria dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih material sebagai fish tank.

  1.  Bebas dari bahan kimia beracun yang berbahaya bagi ikan.
  2. Tidak mempengaruhi pH baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Bahan fish tank harus kokoh dan tidak mudah rusak atau korosi.
  4. Bentuk fish tank yang ideal adalah yang tidak memiliki sudut. Dengan bentuk seperti ini maka sirkulasi air akan bekerja dengan baik dan kotoran tidak akan terperangkap sehingga mudah untuk disedot keluar. Bentuk silinder adalah yang paling ideal namun jika tidak memungkinkan dianjurkan menggunakan fish tank yang tidak memiliki sudut yang tajam.
  5. Direkomendasikan menggunakan bentuk fish tank yang memiliki permukaan yang luas agar suplai oksigen kedalam air lebih mudah. Fish tank yang bentuknya pendek dan lebar lebih baik dari yang bentuknya tinggi tapi permukaannya sempit.
  6. Tinggi fish tank yang di rekomendasikan antara 70 hingga 100 cm. Ketinggian fish tank ini akan memudahkan kita untuk melakukan aktifitas harian seperti memberi makan ikan, mengontrol kondisi fish tank dan ikan. Ketinggian ini juga untuk menjamin keselamatan terutama untuk menghindari anak balita agar tidak tercebur kedalam fish tank.
  7. Ukuran volume fish tank yang besar akan memperkecil fluktuasi suhu dan pH. Disarankan menggunakan fish tank dengan volume minimal 700 liter namun jika tidak memungkinkan dapat juga menggunakan volume yang lebih kecil dengan menjaga fluktuasi suhu dan pH.
  8. Pastikan lokasi penempatannya memiliki struktur yang kuat untuk menahan beban fish tank.
  9. Gunakan penutup fish tank untuk menghindari ikan melompat keluar. Pemakaian jaring ikan sebagai penutup adalah salah satu yang direkomendasi.
  10. Posisi outlet fish tank akan menentukan ketinggian permukaan air, posisinya disarankan sekitar 15 cm dibawah permukaan atas fish tank untuk menghindari ikan melompat keluar. Ukuran outlet disarankan menggunakan pipa ukuran pipa 1,5 hingga 2 inch agar tidak mudah tersumbat.
  11. Konektor fish tank bisa menggunakan uniseal atau bulkhead (sok drat) yang dilengkapi seal karet. Bulkhead/ sok drat biasanya berbahan dasar plastik yang keras dan cocok untuk digunakan pada fish tank dengan perukaan dinding yang datar/ rata. Sedangkan uniseal berbahan dasar karet dan bersifat fleksibel sehingga dapat digunakan pada fish tank yang memiliki dinding datar maupun melengkung.
SOK DRAT LUAR & SOK DRAT DALAM
UNISEAL

 

 

 

 

 

 

 


 

Rekomendasi Fish Tank

Berikut ini adalah bahan-bahan yang direkomendasikan dan dapat digunakan sebagai fish tank

 

IBC Tank

Intermediate Bulk Container atau IBC adalah sebuah kontainer berbentuk kubus yang biasanya terbuat dari jenis plastik polyethylene dengan rangka galvanis. Kontainer yang umumnya memiliki ukuran volume sekitar 1000 liter ini didesign agar mudah untuk dipindah dan ditumpuk sehingga sangat cocok digunakan pada industri kimia dan minuman. Dengan karakteristik tersebut maka IBC banyak digunakan pada sistem aquaponik. Namun demikian perlu diketahui apakah IBC yang akan digunakan aman bagi sistem aquaponik. Hindari IBC bekas yang sebelumnya diisi bahan kimia berbahaya. Meskipun telah dicuci dengan baik kandungan kimia tersebut sebeneranya sulit untuk dihilangkan.  

 


Bak Fiberglass

Bak yang terbuat dari fiberglass ini banyak dijual dalam bentuk kotak, bulat maupun oval dengan ukuran dan kapasitas yang beragam. Namun bak ini juga dapat di kostumisasi atau dipesan sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Bak ini banyak digunakan baik oleh perorangan maupun skala peternakan ikan. Dengan menggunakan bahan fiberglass akan memungkinkan untuk dilakukan perbaikan jika terjadi kebocoran.

 

 


Tangki Air / Toren

Tangki air atau sering disebut Toren ini berbahan dasar plastik polyethylene yang ringan. Tangki ini biasa digunakan sebagai tempat penampungan air baik di rumah maupun di Industri. Tangki yang memiliki ragam warna ini juga tersedia dalam berbagai ukuran. Dengan sedikit kreatifitas menambahkan jendela pada dinding tanki, akan membuat tampilan fish tank terlihat menarik.

 

 

 


Kolam Terpal

Kolam terpal adalah kolam yang memanfaatkan bahan terpal (plastik) sebagai pelapis kolam. Kolam jenis ini banyak diminati oleh peternak ikan karena mudah, murah dan cepat dalam pembangunannya. Terpal ini juga dapat digunakan pada kolam bentuk bulat, kotak dan bentuk lainnya. Pemasangannya dapat menggunakan rangka besi atau dihamparkan pada galian tanah. Namun demikian usia kolam jenis ini biasanya tidak terlalu lama dan sering kali terjadi kebocoran yang disebabkan goresan atau terpal yang menjadi getas karena cuaca.

 


Blue Barrel / Drum (Tong) Plastik

Drum yang terbuat dari plastik tebal ini banyak digunakan sebagai wadah pengiriman cairan atau bahan kimia karena strukturnya yang kokoh. Drum plastik yang bisa digunakan sebagai fish tank adalah yang jenis tertutup dengan kapasitas 200 liter. Drum ini menjadi salah satu yang diminati terutama oleh pemula karena cost-nya terbilang murah dan dapat dibuat dengan berbagai konfigurasi. Seperti halnya IBC, Jika memakai Drum plastik ini perlu dipastikan tidak mengandung bahan kimia berbahaya.

 

 


Selain barang-barang diatas masih banyak lagi yang dapat dimanfaatkan sebagai fish tank selama memenuhi kriteria yang telah disebutkan sebelumnya seperti bathtub atau bak kamar mandi. Salah satu yang juga sering banyak dipakai adalah kolam semen/ beton. Jika menggunakan kolam beton/ semen maka perlu dilakukan treatment untuk menetralisir racun dan pH yang terkandung dalam semen. Treatment yang paling sering digunakan adalah dengan batang pohon pisang.

 

 

Semoga bermanfaat.

Bagikan :
Konfigurasi Sistem Aquaponik

Konfigurasi Sistem Aquaponik

Tips & Trick

Salah satu keunggulan sistem aquaponik adalah fleksibilitasnya terhadap ruang. Sistem ini dapat diaplikasikan untuk skala komersial yang menggunakan lahan yang luas atau hanya sebagai hobi dengan hanya memanfaatkan ruang yang tersisa di pekarangan rumah.

Untuk membangun sebuah sistem aquaponik yang efektif diperlukan perencanaan yang baik. Dimulai dengan merancang tata letak / layout yang mengacu kepada luasnya lahan yang tersedia. Selain itu juga perlu ditentukan model tanam yang akan digunakan.

Dalam merancang tata-letak (layout) sistem aquaponik dibutuhkan pemahaman tentang bagaimana sistem ini akan bekerja. Dengan demikian kita dapat menentukan konfigurasi sistem yang paling efektif dan efisien. Dibawah ini adalah berbagai konfigurasi sistem aquaponik. Dari yang sangat sederhana hingga yang sangat kompleks dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan kondisi lahan yang akan digunakan.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan membantu dalam membangun sistem aquaponik anda.

 

 

Bagikan :
Cara Menyemai Menggunakan Rockwool

Cara Menyemai Menggunakan Rockwool

Tips & Trick

Rockwool merupakan salah satu media tanam yang banyak digunakan oleh para petani hidroponik di Eropa. Media tanam ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan media lainnya terutama dalam hal perbandingan komposisi air dan udara yang dapat disimpan oleh media tanam ini.

Rockwool dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai dari tahap persemaian sampai pada fase produksi.

Keunggulan dari Rockwool:
* Ramah lingkungan
* Tidak mengandung pathogen penyebab penyakit
* Mudah dalam mengontrol kadar air di media tanam
* Efisien dalam penggunaan air

Berikut ini adalah cara menyemai menggunakan rockwool :


Tahap 1 – Persiapan

Siapkan bahan dan alat bantu sebagai berikut :

1.  Rockwool (disini saya mengunakan rockwool 1/4 slab ukuran 25 x 15 x 7,5 cm)

2. Tray / Wadah Plastik

3. Alat Potong (bisa menggunakan pisau atau gergaji besi)

4. Penggaris (disini saya menggunakan potongan lembaran plastik yang sudah dipotong dengan lebar 2,5 cm untuk mempermudah pemotongan)

5. Alat Tusuk / pembolong dapat menggunakan paku, pulpen, dll.

6. Bibit Tanaman

7. Netpot


Tahap 2 – Potong Rockwool

Buatlah potongan rockwool dengan ukuran 2,5 2,5 x 2,5 cm

Caranya silahkan ikuti langkah-langkah berikut :

Potong Rockwool pada bagian panjangnya menjadi 10 bagian (ketebalan 2,5 cm) gunakan plastik sebagai guidance. Maka kini kita mendapatkan 10 pcs potongan rockwool dengan ukuran masing-masing 15 x 7,5 x 2,5 cm.

  

Pada hasil potongan tersebut, buat potongan pada bagian lebar (7,5 cm) sehingga terbagi menjadi 3 bagian (masing-masing 2.5 cm). Potongan yang dibuat jangan sampai putus.

  

Selanjutnya buat potongan pada bagian panjang (15 cm) menjadi 6 bagian (masing-masing 2,5 cm). Potongan yang dibuat jangan sampai putus.

Kini kita memiliki 18 potongan (tidak terputus) yang masing-masing ukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 cm.


Tahap 3 – Buat Lubang Tanam

Buatlah lubang menggunakan alat tusuk (paku, pulpen, dll) dengan kedalaman 0,5 – 1 cm pada tiap potongan.

 

 

 

 


Tahap 4 – Masukan Benih

Masukan benih yang ingin disemai pada tiap-tiap lubang. Kamu dapat membuat lubang dan memasukan benih lebih dari 1 untuk mengantisipasi benih yang gagal tumbuh (sebagai cadangan).

 

 

 


Tahap 5 – Basahi Rockwool

Agar benih dapat tumbuh media tanam perlu dibuat lembab, caranya dengan meletakan rockwool pada tray/ wadah plastik kemudian siram dengan air bersih secukupnya pada tiap rockwool hingga rockwool basah (tapi tidak terlalu basah).

 

 


Tahap 6 –   Simpan Ditempat Teduh

Simpanlah benih di tempat teduh (tidak terpapar sinar matahari secara langsung) agar terjadi sprout (muncul kecambah). Cek kelembaban rockwool dan tambahkan air jika diperlukan. Beri tag pada tiap jenis tanaman yang disemai jika perlu.

 

 

 

 

 


Tahap 7 – Paparkan Sinar Matahari

Jika kecambah telah muncul (biasanya setelah 2-3 hari), segera paparkan sinar matahari secara langsung untuk menghindari etiolasi (pertumbuhan kutilang = kurus-tinggi-langsing). Tetap jaga kelembaban rockwool dengan menyiraminya setiap hari.

  


Tahap 8 – Pindah Tanam

Jika benih sudah memiliki 4 daun (biasanya setelah 2 minggu) maka dapat dipindahkan ke sistem aquaponik. Masukan benih dalam netpot sebelum dipindahkan ke sistem aquaponik. Pastikan akar tanaman (rockwool) terkena aliran air.

  

 

 


Demikian cara menyemai benih menggunakan rockwool, semoga bermanfaat dan selamat ber-aquaponik.

Jika anda membutuhkan rockwool dan bibit tanaman silahkan kunjungi toko online kami atau pesan melalui WA di 08129915599.

Temukan tips & trik lainnya di halaman blog kami.

Bagikan :
Metode menanam – Direct seeding & Transplanting

Metode menanam – Direct seeding & Transplanting

Tips & Trick

Direct seeding adalah teknik menanam dimana proses penyemaian dan pembesaran dilakukan pada tempat yang sama, sedangkan transplanting proses penyemaian dilakukan terpisah dengan pembesaran.

Untuk mengetahui teknik menanam yang tepat bagi anda, sebaiknya ketahui dulu kelebihan dan kekurangan dari masing-masing teknik tersebut.

 


Direct Seeding

Keunggulan :

  • Mudah – Pekerjaan yang dilakukan hanya menanam benih.
  • Murah – Hanya membutuhkan benih dan grow bed.
  • Cepat – Hanya sekali menanam benih dan pekerjaan selesai.

 

Kekurangan :

  • Menghabiskan tempat – Banyak ruang grow bed tak terpakai saat menyemai benih.
  • Tidak akurat : Benih yang gagal tumbuh menghabiskan ruang grow bed.
  • Tidak sesuai pada semua tanaman : Beberapa tanaman tidak cocok menggunakan metode ini.

Transplanting


Keunggulan :

  • Menghemat waktu dan biaya – Benih membutuhkan waktu untuk tumbuh. Dengan menggunakan tray semai, maka space pada growbed dapat dioptimalkan hanya untuk menanam benih yang tumbuh.
  • Terorganisir – Tray semai sudah terbagi-bagi menjadi beberapa cell, ini memudahkan untuk mengatur penempatan 1 benih pada tiap cell nya. Ini juga untuk memastikan tiap benih memiliki cukup ruang untuk tumbuh.
  • Efektif – Hanya benih yang tumbuh dengan baik yang akan ditanam. Benih yang gagal atau tumbuhnya tidak baik dapat dibuang.

 

Kekurangan :

  • Biaya tambahan – Pengadaan tray semai akan menambah biaya.
  • Berantakan – Menempatkan 1 benih pada 1 cell untuk benih ukuran kecil akan sulit sehingga sering dalam 1 cell terdapat beberapa benih, dan ini bisa menjadi berantakan saat benih itu tumbuh.
  • Tambah pekerjaan – Benih yang sudah tumbuh dan berkembang perlu dipindahkan, Memindahkannya ke grow bed menjadi pekerjaan tambahan yang perlu dilakukan.
  • Sensitif pada beberapa tanaman – Beberapa jenis tanaman akan sangat sensitif saat dilakukan pindah tanam. Perlu dilakukan secara hati-hati saat memindahkannya kedalam growbed.

Jika membutuhkan netpot dan media tanam, anda bisa mengunjungi toko online kami disini.

 

Bagikan :
Grow Media / Media Tanam

Grow Media / Media Tanam

Tips & Trick

Penggunaan grow media (media tanam) pada aquaponik merupakan hal yang membedakannya dengan cara berkebun tradisional. Seperti halnya hidroponik, sistem aquaponik juga tidak menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Jenis grow media yang digunakan pada aquaponik sangat beragam dari mulai bahan alami yang banyak ditemui disekitar kita hingga yang dibuat khusus.

Fungsi grow media :

  • Filter untuk “menangkap” kotoran ikan
  • Rumah bagi bakteri menguntungkan
  • Penopang tanaman

Kriteria grow media

  • Bersifat netral dan tidak mengubah pH baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
  • Tidak membusuk karena akan sulit mengontrol pH
  • Berpori, artinya semakin banyak surface area sebagai “rumah” bagi bakteri. Poros juga berfungsi untuk meningkatkan sirkulasi air dan udara. Selain itu media berpori dapat menahan air dan menjaga kelembaban.
  • Ringan, agar tidak memberi beban yang berat terhadap grow bed.
  • Berukuran 1-3 cm. Jika terlalu kecil membuat ruang terlalu padat dan kotoran yang terperangkap akan menghambat sirkulasi aliran air dan udara. Jika terlalu besar akan banyak ruang kosong sehingga membuat akar tanaman sulit untuk mencengkram.

Jenis grow media

Jenis grow media yang digunakan pada aquaponik sangat beragam dari mulai bahan alami yang banyak ditemui disekitar kita hingga yang dibuat khusus. Berikut adalah contoh grow media yang biasa digunakan.

 

1. Kerikil / Split / Gravel / Crush rock

Ini adalah pecahan batu kali sehingga cukup berat dan sering ditemui masalah pH. Meskipun kerikl cukup murah tapi sisinya yang tajam akan berdampak pada akar tanaman dan agak sulit untuk di tangani.

 

 


2. Batu kali / River stone

Batu yang berasal dari sungai ini umumnya berbentuk bulat dan halus sehingga tidak sulit dalam penangannanya. Batu ini tergolong murah dan banyak tersedia dipasaran. Batu kali dapat menopang tanaman yang tinggi seperti cabe dan tomat namun tidak dapat menahan air dengan baik, sangat berat, dan surface areanya lebih sedikit jika dibanding batu apung atau expanded clay sehingga tidak dapat membentuk populasi bakteria secara optimal.


3. Batu apung / Pumice / Lava rock

Batu apung digunakan untuk banyak hal karena ketersediaan dan harganya yang tergolong murah. Batu apung adalah leca versi alami karena ringan dan berpori. Penangannya tidak semudah hidroton karena bentuknya yang tidak beraturan. Batu apung dapat memiliki pori ingga 90% dan pada awalnya akan mengapung di air tapi jika direndam dalam air untuk waktu tertentu batu ini akan tenggelam.


4. Leca / Hydroton

LECA (Lightweight Expandable Clay Aggregate) adalah butiran tanah lempung yang berpori yang akan mengembang jika basah dan membentuk lapisan sehingga akar dengan mudah berkembang didalamnya. Bentuknya yang seperti kelereng relatif halus, membuatnya mudah untuk digunakan. Media ini juga memiliki surface area yang besar, memberikan tempat tinggal bagi bakteri menguntungkan sehingga sangat efektif digunakan sebagai bio-filter. Leca memiliki pH netral yang artinya tidak mempengaruhi kandungan air sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman. Media ini juga menjadikan air mudah surut, untuk membantu akar tanaman mendapatkan oksigen. Salah satu merk yang terkenal adalah hydroton, namun saat ini produsen telah menghentikan produksinya sebagai alternatifnya bisa menggunakan Gold Label Hydro.


Masih banyak lagi jenis grow media yang dapat digunakan dalam sistem aquaponik. Anda bisa mencari dan menggunakan alternatif grow media yang ada disekitar anda selama memenuhi kriteria diatas.

Sebelum grow media digunakan sebaiknya dilakukan ujicoba terlebih dahulu untuk mengetahui apakah grow media tersebut mengandung bahan yang merugikan dan mengubah pH. Selain itu grow media juga perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal ini untuk menghilangkan debu yang masih menempel sehingga tidak mengotori air.

Jika anda membutuhkan media tanam atau media filter, silahkan klik disini

Bagikan :
Start-Up (Cycling) System

Start-Up (Cycling) System

Tips & Trick

Hal pertama yang harus dilakukan untuk memulai sistem aquaponik adalah cycling atau proses start-up. Bisa jadi tiap orang akan memberikan jawaban yang berbeda.tentang cara melakukannya. Cycling artinya membangun populasi bakteria menguntungkan pada sistem aquaponik sehingga mereka akan melakukan tugasnya mengubah amonia yang berasal dari kotoran ikan menjadi nitrat yang merupakan nutrisi bagi tanaman. Dengan kata lain membuat proses nitrifikasi berjalan.

Bagaimana proses nitrifikasi ini bekerja? Kotoran ikan itu mengandung amonia dan ini akan tercampur dalam air. Amonia adalah bahan beracun bagi ikan dan pada jumlah tertentu bisa menyebabkan kematian bagi ikan. Untungnya, alam telah menyediakan jawabannya dengan adanya kelompok bakteri menguntungkan yang disebut nitrosomonas sp. Bakteri ini akan mengubah amonia menjadi nitrit. Tetapi nitrit ini masih membahayakan bagi ikan. Lagi-lagi alam menyediakan solusinya dengan menghadirkan bakteri menguntungkan lainnya yang disebut
nitrobacter sp.
Bakteri inilah akan merubah nitrit menjadi nitrat. Dan nitrat tidak membahayakan bagi ikan.

 

Masalahnya adalah secara alami kedua jenis bakteri itu perkembangannya cukup lama sehingga proses nitrifikasi ini bisa mencapai 30 hari bahkan bisa lebih dari itu. Dan pada saat nitrat belum terbentuk maka kandungan amonia dan nitrit akan cukup tinggi dan berpotensi menyebabkan kematian ikan. Dari penjelasan diatas jelas bahwa untuk dapat menjalankan proses cycling dibutuhkan asupan amonia kedalam sistem. Ada berbagai sumber amonia yang dapat dimasukan kedalam sistem, baik menggunakan kotoran ikan maupun bahan-bahan lainnya.

Berikut ini adalah tiga cara start-up (cycling) sistem aquaponik yang sering digunakan oleh pelaku aquaponik.


1. Start-up dengan ikan

Sebenarnya jika sistem yang dibangun sudah sesuai konsep yang benar maka dengan memasukan ikan pada sistem proses cycling akan berjalan secara alami. Kotoran ikan yang mengandung amonia akan mengundang bakteri menguntungkan muncul dalam sistem berkembang biak. Amonia yang merupakan makanan bagi bakteri tersebut akan diubah menjadi nitrit dan kemudian nitrat.

Namun walau terlihat sederhana, ada hal yang perlu diperhatikan dengan menggunakan cara ini. Pada sebuah sistem baru dimana populasi bakteri belum terbentuk atau masih sedikit akan menjadi riskan bagi ikan. Karena amonia yang dihasilkan oleh ikan belum terurai seluruhnya, sehingga kandungan amonia dalam sistem masih tinggi dan menjadi racun bagi ikan. Hal ini akan mengakibatkan ikan stress bahkan mungkin mati.

Untuk itu pada saat start-up disarankan untuk tidak memasukan ikan terlalu banyak dan gunakan ikan yang punya daya tahan tinggi terhadap kondisi tersebut seperti ikan Nila misalnya. Proses nitrifikasi dengan cara ini seringkali membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan ada yang mencapai tiga bulan. Selama proses start-up lakukan pengukuran amonia, nitrit dan nitrat setiap hari hingga proses nitrifikasi telah tercapai. Selain itu lakukan juga pengukuran pH.


2. Start-up tanpa ikan

Cara yang disebut fishless ini pada dasarnya sama seperti cara sebelumnya, hanya saja pada cara ini amonia yang dimasukan kedalam sistem bukan berasal dari kotoran ikan melainkan menggunakan bubuk amonia atau bahan-bahan lain yang mengandung amonia. Beberapa pelaku aquaponik bahkan menggunakan urinenya sendiri. Keuntungan menggunakan cara ini adalah tidak adanya resiko ikan yang mati. Namun perlu diperhatikan mengenai jumlah amonia yang dimasukan dalam sistem agar proses nitrifikasi dapat berjalan dengan baik.

 

 

 


Start-up melalui donor (Inoculate)

Cara ini adalah cara tercepat untuk proses start-up. Pada prinsipnya inoculate adalah memasukan bakteri menguntungkan kedalam sistem, sehingga perkembangannya akan lebih cepat. Bakteri tersebut bisa berasal dari bakteri starter yang dijual dalam kemasan maupun menggunakan air atau media yang berasal dari sistem akuaponik yang sudah berjalan. Cara ini juga paling aman karena jumlah air atau media yang dimasukan kedalam sistem tidak akan membahayakan bagi ikan, bahkan semakin banyak semakin baik. Perlu diperhatikan jika anda menggunakan cara inoculate ini pastikan air atau media berasal dari sistem yang sehat.


Anda mungkin membutuhkan test kit untuk dapat memantau proses cycling pada sistem aquaponik. Test kit yang dibutuhkan meliputi pH, amonia, nitrit dan nitrat. Anda dapat membelinya dalam bentuk paket maupun satuan. Silahkan kunjungi online store kami untuk mendapatkan test kit tersebut.

 

 

 

I

 

Bagikan :
Cara menanam cabe

Cara menanam cabe

Tips & Trick

Bagi sebagian besar orang Indonesia cabe adalah salah satu komoditi penting. Wajar saja karena hampir setiap masakan nusantara selalu bercita rasa pedas dan ini tentunya menggunakan cabe. Harga cabe yang sering membumbung, terutama mendekati hari-hari raya sering membuat masyarakat protes. Lalu kenapa kita tidak menanmnya sendiri saja?

Berikut ini adalah cara menanam cabe dalam sistem aquaponik.

 

Dapatkan semua kebutuhan aquaponik di toko online kami

Bagikan :